Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

BUDAYA MEMBACA DI SEKOLAH


Maca...?!
Kualitas manusia sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional. Sehingga wajar apabila pencapaian kualitas manusia dilakukan dengan berbagai upaya.  Dengan mengoptimalkan semua yang dimiliki bangsa baik materiil maupun imateriil.
Kualitas manusia diperlukan juga dalam meghadapi era globalisasi. Persaingan bebas dapat menjadi “momok” yang menkautkan bagi bangsa kita kalau tidak diimbangi dengan kualitas manusia yang memadai. Sehingga kualitas manusia merupakan hal penting digarap. Agar bangsa kita tidak terpinggirkandari kanncah persaingan internasional.
Salah satu usaha meningkatkan kualitas manusia atau bangsa adalah dengan membaca. Membaca merupakan kegiatan untuk menyerap berbagai informasi dan pengetahuan yang ada dalam buku. Dengan banyak membaca menjadikan orang memperoleh banyak informasi dan pengetahuan. Dan sebaliknya, kalau orang tidak pernah membaca akan miskin informasi dan pengetahuan yang berkembang sat ini.

3 Variasi Pembelajaran yang Menarik ?


Ngajar lagi ...coy
         Salah satu permasalahan yang dihadapi guru saat ini adalah metode pendekatan pembelajaran yang konservatif, ceramah sistem monolog. Berbagai perubahan kurikulum, adanya sertifikasi, umumnya tidak mengubah sistem pendekatan pembelajaran konservatif. Sehingga bagi beberapa kalangan upaya mengembangkan sistem pembelajaran saat ini berlangsung lambat.
           Dalam pandanganku, dalam menerapkan pembelajaran  yang lebih menarik, guru harus mau dan mampu memvariasikan pendekatan pembelajarannya. Ada  variasi pembelajaran yang bisa diterapkan, yakni :
1. Pendekatan dengan mengoptimalkan lingkungan sekitar, atau aku sering sebut dengan istilah environment learning.
Aku mulai tertarik dengan pendekatan environment learning, setelah melihat temanku sejarah mengajarkan pengertian sejarah dengan mengambil pot tanaman bongsai di depan gedung. Baru pemikiranku terbuka, ternyata banyak hal di lingkungan sekitar kita yang bisa kita gunakan. Misal : Aku gunakan prasasti pendirian sekolah untuk menerangkan tentang prasasti, atau menggunakan tangga sekolah untuk menjelaskan punden berundak.
Environment learning, lebih banyak dikombinasikan dengan outing learning, pembelajaran ke tempat-tempat tertentu, misal : museum, candi, kraton dsb. outing learning membutuhkan banyak persiapan baik : waktu, prosedur, biaya dsb. Tetapi, dengan pendekatan Environmentt Learning,  tidak banyak biaya, waktu, prosedur atau persiapan. Kita hanya butuh lebih jeli dengan apa yang ada disekitar kita. 
Di beberapa media yang pernah aku lihat, pendekatan ini diwujudkan dengan penggunaan pakaian dan gaya dalam pembelajaran. Misal : menjelaskan tentang Napoleon, maka guru berpakaian seperti Napoleon dan bergaya seperti Napoleon.

2. Pendekatan dengan Menggunakan cooperative Learning.
Pendekatan ini sering aku pakai kalau menggunakan pendekatan kerja kelompok. Dasar literatur yang aku pakai, adalah tulisan Anita Lie tantang Pembelajaran Kooperatif. Ada banyak jenis pembelajaran ini, seperti : STAID, 2 Tamu 2 Tinggal dsb. Sistem kerja dari pendekatan ini, mengubah sistem kerja kelompok gaya lama, yang cenderung hanya beberapa orang saja yang dominan. Dalam beberapa tulisan, pendekatan ini paling cocok untuk masyarakat Indonesia yang bercirikan gotong royong.

3. Pendekatan dengan mengoptimalkan teknologi Pembelajaran modern.
Pendekatan yang ketiga, adalah proses pembelajaran klasik yang dikombinasikan dengan penggunaan teknologi. Ada banyak teknologi pembelajaran modern yang bisa dipakai. Umumnya guru menggunakan powerpoint (ppt) dalam menjelaskan bahan. Namun untuk membuat pembelajaran lebih real dan variasi, guru dapat menambahkan dengan teknolog tambahan seperti : film, animasi, facebook, blog dsb. Kelemahan pendekatan ini, guru harus menguasai teknologi dan sekolah menfasilitasi penggunaan teknologi, seperti : tersedia LCD, Speaker, Internet dsb.

Guru dapat menggunakan salah satu atau bahkan menggabungkan 3 pendekatan pembelajaran tersebut. Masing-masing pendekatan punya kelemahan dan kelebihan. Namun untuk membuat pembelalajaran lebih menarik, tidak salahnya guru memvariasikan pendekatan pembelajarannya. Di blog ini, banyak media dan tulisanku tentang penggunaan pembelajaran dengan menggunakan teknologi modern. Silahkan mencobanya.

Kekuatan Pikiran



Filosofi mendasar dari ungkapan psikologi maupun spiritual, bahwa apa yang kita ucapkan dan lakukan bersumber dari apa yang kita pikirkan. Pengontrolan atau pengendalian pikiran yang baik akan melahirkan ucapan dan perbuatan baik, sebaliknya tanpa pengendalian yang baik terhadap pikiran akan menghasilkan ucapan dan perbuatan yang kurang baik pula.

Hal ini berarti bahwa pengendalian pikiran begitu penting bagi kita yang ingin mengendalikan ucapan dan perbuatan kita. Dapat dikatakan bahwa syarat mutlak merubah ucapan dan perbuatan adalah merubah cara berpikir.

Perlu disadari, bahwa aktifitas pikiran kita sangat ditentukan oleh pembiasaan. Cara berpikir kita sekarang merupakan bentukan dari pembiasaan aktifitas pikiran kita. Dan umumnya, bilamana satu bentuk pikiran diulang-ulang dalam diri seseorang, maka akan terdapat kecenderungan yang kuat untuk mengulang timbulnya bentuk pikiran itu. Makanya, untuk merubah aktifitas pikiran memerlukan proses pembiasaan. Proses merubahnya memerlukan waktu, ketekunan dan konsistensi.
Menurut beberapa kalangan, setidaknya ada 3 cara merubah pembiasaan pikiran, yakni :

1.       Berlatih konsentrasi
Konsentrasi adalah aktifitas pikiran yang dipusatkan pada satu objek secara terus-menerus tidak terganggu atau tergoyahkan oleh objek lain di sekitarnya. Pikiran yang mempunyai konsentrasi tinggi, akan memandang satu objek dan tidak akan terganggu oleh objek lain. Pikiran seperti ini menjadikan pemiliknya dapat mengontrol aktifitas pikiran yang ada didalamnya.

TTS (Teka-Teki Silang)

Suatu waktu aku melihat salah satu siswa bingung dan kesulitan ketika salah satu guru memberikan tugas untuk membuat TTS (Teka-Teki Silang). Aku melihat ia membuat dengan susah payah, ganti sana, ganti sini. Kasihan, begitu batinku.

Dari rasa kasihan dan penasaran inilah, maka aku berupaya untuk mencari cara bagaimana paling cepat dan tepat membuat TTS. Aku mulai browsing di google. Dan ternyata banyak cara yang dapat dilakukan apabila kita ingin cepat membuat TTS. Namun dari banyak cara itu aku rangkum menjadi 2 cara umum, yakni :

1. Membuat TTS dengan free software yang dapat didownload di Internet.
Tersedia banyak sekali free sofware yang tersedia di internet, sehingga kita tinggal download saja. Software itu menyediakan cara dari yang sederhana sampai cara yang paling kompleks. Namun penggunaan software benar-benar memudahkan kita dalam membuata TTS, daripada dibuat secara manual. Mau download contoh softwarenya klik di sini !.

2. Membuat TTS dengan free website yang tersedia di Internet.
Ada banyak free website yang dapat dipakai untuk membuat TTS, misalnya : puzzle-maker.com.  Di web ini, kita lebih mudah membuat TTS, tinggal mengisi jawaban dan isiannya maka TTS akan jadi dengan sendirinya. Gampang kan.

Oleh sebab itu, bagi siswa, ataupun guru yang ingin membuat TTS, dapat menggunakan 2 cara diatas. Bagi guru, tugas membuat atau mengerjakan TTS dapat memvariasi pola pengajaran yang dilakukan. Bagi siswa, TTS bisa juga sebagai media untuk hiburan kalau kita sedang bosan. Semoga bermanfaat.


Soal Online dengan QuestBase

Pertanyaan awal dalam pikiranku tentang soal online adalah : Bagaimana membuat soal online dimasukkan ke dalam blog? Bagaimana supaya jawaban dari para penjawabnya dapat langsung masuk ke emaile atau database khusus?. Pertanyaan itu terus mengiang dalam telinga dan pikiranku, sehingga mau tidak mau aku berusaha menjawabnya.

Seperti biasa aku mulai browsing dari satu blog ke blog lain, dari satu website ke website lain. Ada beberapa alternatif atau pilihan cara supaya aku dapat masukkan soal online ke dalam blog. Setelah buka ini dan buka itu, maka aku temukan beberapa cara untuk memasang soal online ke dalam blog.

Cara pertama adalah membuat soal dahulu dari sofware khusus yang menyediakan media memasangkan ke dalam blog. Dasar pandangan ini aku temukan, setelah ada beberapa tulisan para bloger yang menyajikan informasi bahwa membuat soal online dapat dilakukan dengan mendownload free software yang ada, seperti wondershare ataupun hot potatoes, atau kalau pengen lebih komplit lagi membuat dengan adobe flash. 

Keingintahuanku mendorongku mulai menggeluti free software itu, banyak hal-hal menarik dari pencarianku itu. Namun, karena keterbatasan pengetahuanku tentang software, HTML dan Jaringan maka aku kesulitan untuk menaruh soal yang aku buat ke blog. Di moment sini pencarian awalku terhenti.

Pembelajaran berbasis Blog di sekolah



Perkembangan dunia dewasa ini sarat dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Media massa terutama internet sudah sangat menyebar kemana-mana, baik perkotaan maupun pedesaan. Berbagai informasi dunia seakan tanpa batas, suatu fakta atau fenomena bisa dibaca, dilihat dan disaksikan dari mana saja. Jika kita ingin mencari informasi apapun dari informasi yang bernuansa keilmuan, gosip, keuangan, olah raga, mode dan informasi-informasi lain, tinggal “klik” saja di internet, maka kita akan dapatkan itu.

Kemajuan teknologi informasi terutama internet yang luar biasa ini, telah berpengaruh ke semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk pembelajaran di sekolah. Terlepas dari pro dan kontra dampak penggunaan internet, sekolah sebagai salah satu lingkungan pendidikan formal sepatutnya mampu memanfaatkan teknologi untuk mempercepat tercapainya tujuan pendidikan. Seperti banyak pakar pendidikan berpendapat, media pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran dapat mempercepat tercapainya tujuan pendidikan.

Menilik dari konsep di atas maka banyak unsur dari internet yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, salah satunya media blog. Ada beberapa keuntungan blog bagi pembelajaran di Sekolah, antara lain :
1.      Sarana informasi materi, tugas, hasil penilaian maupun hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran.
Pada zaman dahulu, semua informasi pembelajaran harus disampaikan diruang kelas, harus bertemu dengan bapak/ibu guru. Namun di zaman globalisasi seperti sekarang ini, semua informasi tidak harus  diberikan di kelas. Blog dapat mewakili wadah informasi tersebut. Materi yang disiapkan tinggal di download saja. Sudah tidak zamannya, murid duduk diam dan mencatat apa yang disampaikan guru.
2.      Ulangan dengan sistem on-line.
Dengan blog pula, ulangan dapat dilakukan dengan sistem online. Banyak website  seperti QuestBase, yang menyediakan sarana pembuatan soal dan menyimpan jawaban langsung ke database guru. Sehingga guru tidak dipusingkan lagi koreksian (terutama soal multiple choice ).
3.      Sarana pemajangan karya siswa
Salah satu bentuk apresiasi guru terhadap  kinerja siswa adalah menampilkan karya itu ke dalam media tertentu. Blog dapat menjadi sarana memenuhi kebutuhan ini. Tugas siswa berupa karya tulis, powerpoint, foto, maupun video dapat ditampilkan dalam blog yang dimiliki guru.
4.      Sarana pengembangan kreativitas dan imajinatif
Di blog juga sarana mengembangkan kreatifitas dan imajinasi baik siswa maupun guru. Guru ditantang untuk mampu membuat blog yang kreatif, sehingga ia harus terus berfikir dan belajar terus mengembangkan diri dan hasil karyanya.
5.      Sarana menyampaikan ide atau gagasan
Salah satu keunggulan lain dari blog adalah sarana menyampaiakan ide atau gagasan. Bagi guru yang suka menulis, blog dapat menjadi sarana mengekspresikan ide/gagasannya. Bagi murid, blog dapat diberi tempat untuk berkomentar atau forum khusus digunakan murid untuk menyampaikan masukan, saran, ide ataupun gagasan lainnya.

Apa itu Paikem ?


Bila kita terlibat dalam proses pendidikan di Indonesia terutama di lingkungan formal atau sekolah, istilah PAIKEM bukan hal yang asing. Sebagian pemikir dan praktisi pendidikan di Indonesia pasti telah mengetahui dan memahami istilah PAIKEM. Karena dewasa ini dalam dunia pendidikan formal, pandangan PAIKEM dijadikan tolak ukur penerapan sistem pembelajaran di sekolah baik dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas.

Apa itu PAIKEM? Itu adalah pertanyaan orang-orang awam yang ingin tahu. PAIKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.  PAIKEM adalah pendekatan pembelajaran yang mencoba mendobrak  paradigma pendidikan lama yang cenderung monoton, menakutkan dan kadang membosankan. Dalam paradigma lama, pembelajaran lebih banyak bersifat monolog, komunikasi melalui satu arah antara guru dengan murid. Sistem pembelajaran yang dikenal sebagai sistem pembelajaran klasik, atau  dengan istilah lain “teacher centered learning”, pembelajaran berpusat pada guru. Guru dianggap sumber segala ilmu dan sumber kebenaran, apapun yang disampaikan dan diajarkan merupakan kebenaran hakiki yang tidak dapat di bantah.

Pendekatan PAIKEM mencoba merubah paradigma lama di atas, dengan paradigma baru, yakni “student centered learning”, pembelajaran berpusat kepada anak. Guru berperan sebagai fasilitator  dan motivator.  Anak dirangsang segala potensi dan kemampuannya sehingga dapat berkembang secara optimal dengan memanfaatkan segala sumber belajar yang ada dilingkungan sekitar. Diharapkan anak tidak menjadikan sekolah sebagai tempat yang menakutkan ataupun membosankan, tetapi menjadi tempat yang mengasikkan dan menyenangkan. Kalau kondisi ini tercipta, gairah, semangat maupun kemauan anak untuk belajar semakin tinggi, yang mengarah pada ketercapaian hasil sesuai tujuan pendidikan yang diinginkan. 

Dalam teori pendidikan, pendekatan PAIKEM berdasar falsafah konstruktivisme, yang menekankan siswa dapat membangun konsep sendiri berdasarkan pengalaman belajar yang dialaminya. Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan merupakan proses menjadi yang pelan-pelan menjadi lengkap dan benar. Pengetahuan ini dibentuk secara pribadi dan siswa sendiri yang membentuknya. Tanpa siswa aktif mengelola dan membentuknya, ia tidak akan menjadi tahu dan paham terhadap sesuatu. Pengetahuan siswa tentang bunga, merupakan pengetahuan yang didapat setelah siswa menjamah, melihat dan akhirnya merumuskan  dalam pikirannya tentang objek yang ditemui  (S. Karim : 2003).